Selasa, 14 Januari 2020

Kolaborasi Para Maestro


Penari bertopeng itu meliukkan bagian atas tubuhnya dari depan ke belakang sembari berputar berlawanan arah jarum jam untuk kembali ke posisi semula. Diiringi bunyi gamelan yang bertalu-talu, liukan itu dilakukan dengan kelenturan layaknya pebalet profesional yang hanya tinggal menyisakan jarak satu jengkal dengan lantai. Gerakan khas itu dikenal dengan nama “Galeyong”. Satu gerakan tari yang menjadi ciri khas Tari Topeng Cirebon gaya Losari.
Rasa penasaran mulai muncul. Tontonan tari tradisi pada saat ini bisa dibilang adalah barang yang sangat langka untuk bisa dilihat dalam tayangan televisi komersial yang hadir setiap saat di dalam keseharian kita. Untunglah, di jaman kemajuan teknologi informasi saat ini tayangan video di internet dapat dengan mudah hadir dalam genggaman piranti telepon pintar atau yang sekarang ini disebut dengan istilah “gawai”.
Saya merasa beruntung saat sedang iseng berselancar di berbagai tayangan video yang beraneka ragam bisa menemukan tarian yang begitu menarik. Saya pun segera membaca berbagai informasi yang tersedia di laman media sosial berbagi video itu. Pengunggah video itu adalah seseorang berkebangsaan Hungaria bernama Kornél Magyar, yang ternyata merupakan seorang pemain perkusi di negaranya yang kerap menampilkan koreografi gamelan dan berbagai alat musik dari Asia.
Magyar saat itu mengunggah video itu dengan keterbatasan pengetahuannya mengatakan bahwasanya sosok yang tampil dalam tarian itu adalah putri dari mendiang Mimi Rasinah, maestro Topeng Cirebon dari Indramayu. Komentar-komentar yang muncul kemudian memberikan koreksi bahwa yang tampil adalah Nur Anani, putri dari Mimi Dewi kemenakan dari Mimi Sawitri yang merupakan maestro Topeng Cirebon dari Losari.
Begitu hebatnya, media sosial pada saat ini, begitu informatif, baru selesai menonton tarian Topeng yang begitu atraktif komentar-komentar langsung memberikan referensi yang sungguh membuka pikiran. Tak cukup hanya itu salah satu komentar menyebutkan adanya tarian lain yang bernama Rumyang. Saya pun segera mencari referensi di mesin pencari dan memang benar bahwa Topeng Cirebon mempunyai lima jenis tarian yang terdiri dari tari Topeng Panji, Pamindo, Rumyang, Tumenggung, dan Klana.
Di sini saya berpikir, dari secuil tayangan video ternyata begitu banyak informasi bisa didapatkan. Dengan penelusuran lebih jauh menggunakan metode investigasi media ternyata tayangan video tersebut plus berbagai komentarnya tak hanya berhasil memotret dunia kreatif melainkan juga memberikan banyak sekali informasi yang selama ini luput dari perhatian orang awam seperti saya.
Siapa sangka video berdurasi kurang dari 9 menit itu membawa cerita yang membanggakan bahkan mengharukan. Di awal tayangan tampak seorang perempuan penari senior yakni Mimi Rasinah, membisikkan sesuatu di telinga penari yang waktu itu masih sangat yunior yakni Nur Anani, yang duduk membelakangi penoton untuk segera memulai pementasan. Berikutnya Nur Anani tampak mengatakan sesuatu pada salah seorang Panjak (pemain gamelan) yang bertugas menabuh Kecrek yang digantungkan pada sebuah kotak besar yang biasa dipergunakan untuk menyimpan wayang. Sambil memainkan Kecrek dan memukul kotak wayang dengan Cempala (pemukul) sang panjak sebelumnya berkata “……..Tumenggung Magangdiraja.”
Adegan awal pementasan tari itu memastikan bahwa tari tersebut memang tari Tumenggung Magangdiraja. Tetapi, apa yang mencengangkan setelah sekian lama menelusuri kisah di balik video tersebut. Video itu adalah rekaman dari sebuah kolaborasi yang sangat langka dari tiga wilayah di Cirebon yang memiliki maestro tari Topeng. Sebagai penari senior dan maestro mendiang Mimi Rasinah terlihat masih sangat bugar dalam tayangan itu, dia mewakili Tari Topeng Cirebon gaya Indramayu. Sang penampil adalah Nur Anani yang masih berumur belasan tahun saat itu, mewakili Tari Topeng Cirebon gaya Losari. Sementara para pengiringnya bersama seorang perempuan muda dewasa yang duduk di sebelah Mimi Rasinah adalah Wangi Indria, mereka adalah keluarga para seniman dari padepokan Tari Topeng Cirebon gaya Slangit.
Sungguh suatu kolaborasi yang hebat. Sebuah peristiwa yang sangat langka mengingat dalam tradisi pertunjukan rakyat biasanya sangat lekat dengan ego masing-masing. Bisa tampilnya tiga padepokan besar dalam satu tayangan video pasti menyiratkan sebuah peristiwa luar bisa yang melatarbelakangi pertunjukan itu. Jika dilihat di peta daerah Cirebon tiga wilayah itu adalah wilayah yang saling berjauhan satu sama lain, bahkan jika dibuat garis bisa membentuk sebuah segitiga yang meliputi bentangan yang melewati Kabupaten Cirebon, Kotamadya Cirebon dan Kabupaten Indramayu.
Usut punya usut berdasarkan penelusuran berbagai referensi, peristiwa kolaborasi dalam video itu ternyata merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Bagaimana tidak, pada saat video itu dibuat kesenioran Mimi Rasinah ditemani oleh para pegiat dan peneliti budaya seperti Toto Amsar Suanda dan Endo Suanda (pengajar di STSI Bandung), juga kesediaan Maestro Topeng Slangit Sujana Arja menjadi fasilitator, dan bakat besar yang dimiliki oleh Nur Anani, mahasiswa STSI sekaligus kemenakan Maestro Topeng Mimi Sawitri, dan dokumenter film amatir dari seorang pencinta budaya Nusantara dari Hungaria, mereka semua adalah para kontributor yang memungkinkan adanya video di atas.
Sungguh … sebuah tayangan yang sangat berarti.

SEPENGGAL KISAH MIMI RASINAH DAN NASIB PARA SENIMAN LAINNYA

Almarhumah Mimi Rasinah (maestro tari Topeng di Indramayu) bukan satu -satunya seniman di Indramayu, dibidang seni lain pun banyak sosok seperti mimi Rasinah seperti seniman tarling klasik, laisan, debleng dengdet, terbang, genjring dan sebagainya tapi kesenian-kesenian ini dipentas dunia tak seharum kesenian tari topeng, di Indonesia varian tari topeng banyak sekali, tetapi khusus topeng dermayonan memiliki karakteristik tersendiri dibanding kesenian topeng daerah lain. Penulis mencoba membagikan sebuah tulisan untuk mengenal mimi Rasinah dan bukan bertujuan mengistimewakan satu cabang kesenian tradisional melalui tokohnya apalagi mengkultuskanya.
Walau mimi Rasinah telah tiada, tari topeng gaya Dermayonan tetap akan diteruskan puluhan anak didiknya. Rasinah memang seorang mimi (ibu) bagi kehidupan tari topeng. Pahit-getir kehidupan topeng telah puluhan tahun dilakoni. Riuh gemerlap dan kosong sepinya pentas ia nikmati. Perjuangan melawan kepapaan telah ia jalani. Namun, ia juga dengan sabar dan ikhlas melahirkan, mendidik, membimbing, dan menuntun anak-anak generasi penerusnya. Mama Amat (suami mimi Rasinah) menilai darah seniman Rasinah tidak terlalu kental. Namun, sejak usia remaja dan menikah dengan Amat, nayaga tari topeng dari keluarga seniman, Rasinah terus digembleng tarian ini dan Rasinah memang dikader menjadi penari topeng. Berbagai teknik tari dan menabuh gamelan harus dikuasai.
 Secara ideologis, apresiasi dilakukan lewat pengembaraan sukma sekaligus pembentukan raga. Ia menjalani ritual puasa mutih (berpuasa dengan hanya makan nasi putih atau segelas air), ngetan (berpuasa, saat berbuka hanya makan nasi ketan), ataupun puasa wali (tidak makan dan tidak minum selama tiga hari atau tujuh hari dan seterusnya). Selama puluhan tahun kelompok tari topengnya berpentas dari kampung ke kampung dan dari desa ke desa untuk menghibur penonton dalam hajatan ataupun ritual desa. Kekayaan filsafat dan cermin karakter manusia pada tari topeng agaknya tidak selalu beriringan dengan kesukaan masyarakat yang cenderung memilih jenis kesenian yang bersifat lebih menghibur, lebih wah, nge-tren, dan nge-pop. Sejak dasawarsa 1980-an taritopeng mulai jarang ditanggap. Keterpurukan itu makin menjadi ketika Mama (Bapak) Amat meninggal dunia. Rasinah seperti "di-PHK". Belasan tahun kemudian tari topeng tidak disentuhnya lagi. Sobra, badong, dodot, kedok, dan busana kebesaran lainnya ia tanggalkan meski dengan dada sesak. Apalagi, paranayaga lainnya satu per satu meninggal dunia, sudah renta, atau mencari penghidupan lain. "Tari topeng hanyalah masa lalu. Sekarang, orang tak butuh tari topeng, tak ada yang nanggap," ujar Mimi Ras atau juga biasa dipanggil Mak Inah itu dan siapa sangka ketika sudah 15 tahun meninggalkan dunia tari, ia "dipaksa" menari lagi. Endo Suanda, Toto Amsar Suanda, dan pengajar STSI Bandung lain saat itu berkeras merayunya.
Pertemuan yang tidak diduga, atas petunjuk Mama Taham, seniman tradisional pemimpin Sanggar Mulya Bhakti, Tambi, Sliyeg, Indramayu, yang juga memiliki kelompok nayaga tari topeng dan wayang kulit, menunjuk Rasinah sebagai salah satu penari yang masih tersisa di Indramayu. Rasinah menolak. Ia merasa sudah tua, sudah belasan tahun tidak menari, sudah lupa dunia tari. Bahkan, dunia tari mengantarkannya kepada kepapaan materi. Pendapatan tidak menentu. Rumahnya pun hampir roboh. Akan tetapi, ketika gamelan topeng berkumandang yang ditabuh para nayaga Mama Taham, ia seakan-akan menemukan kembali dunianya yang hilang. Sebuah dunia tempatnya mengekspresikan karakter manusia lewat tari Panji, Pamindo, Tumenggung, ataupun Kelana. Ketika menari Kelana, kerentaan usia 65 tahun tidak ada. Kakinya lincah mengentak- entak, berderap, menyepak- nyepak, ataupun berjalan dengan pongahnya. Nuansa kemarahan menyebar di sekelilingnya, tinggi hati, berkuasa, dan egois dengan kegarangan kumis hitam tebal, mata melotot, dan wajah merah. Ekspresi tubuh, tangan, kaki, kepala, hati, dan jiwa menyatu dalam karakteristik angkara murka. Namun, adegan yang penuh ruh dan energi itu justru menjadi kontras saat tarian usai dan kedok penari dibuka. 


Wajah yang tersembul adalah perempuan renta, ringkih, keriput, bahkan (maaf) mata kirinya pun sudah cacat. Endo, Toto dan Mama Taham berhasil kembali membawanya kembali ke dunia tari. Mereka membawanya kembali berpentas sampai ke Bandung, Jakarta, Solo, Bali bahkan beberapa kota di Jepang. Undangan pentas seperti mengalir dari berbagai tempat, kota, dan negara. Kekayaan karakteristik topeng ia suguhkan dan banyak diapresiasi. Rasinah adalah harta karun yang lama terpendam di bawah samudra dunia kesenian tradisional Indramayu yang kaya dan beragam. Setelah generasi tari topeng Cirebon, dari Ibu Suji, Ibu Dewi, hingga Ibu Sawitri, kemunculan Rasinah adalah fenomena tersendiri. Berbagai penghargaan diterimanya, dari tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional. 

Harta karun itu bukan hanya milik Indramayu, Jawa Barat, dan Indonesia, melainkan juga dunia internasional. Dalam kerentaan menuju usia 80 tahun karena stroke menyerangnya yang membawanya ke sang khalik. Pemerintah Kabupaten Indramayu berencana membuat monumen dirinya. Rasinah tentu tidak mungkin lagi menari Kelana yang beraroma kesombongan dunia, keangkuhan penguasa, dan kepongahan sang angkara murka. Di pekuburan tepi pematang sawah di desa Pekandangan itu mungkin terlintas ada tarian Panji yang halus dan lembut sebagai pengembaraan sukma yang impresif dan utuh, seperti bayi baru lahir dalam gambaran kedok putih-bersih.
Selamat jalan, sang maestro.
Demikian tulisan Supali Kasim.
Jujur saja ketika saya mendengar mimi Rasinah wafat saya menangis karena mengingat jasanya pada masyarakat banyak, seniman tradisional seperti mimi Rasinah banyak yang dibawah kemiskinan dan kehidupan yang susah tetapi ketika mereka diatas panggung mereka memberi hiburan dan keceriaan bagi para penontonya yang kaya ataupun miskin dengan sepenuh hati, upah mereka tak sebanding dengan nilai kebahagiaan dan keceriaan yang muncul, mereka berjasa melupakan problema dan kesusahan hidup walau mereka sendiri hidup dalam kesusahan dan ini yang kuanggap jasa seniman yang tak ternilai dengan apapun.
Sebenarnya kesenian tradisional di Indramayu, dibanding Cirebon mungkin jauh lebih banyak dan kreatif. Tarling misalnya jauh sebelum Abdul Abjid digadang-gadang sebagai maestro tarling, di Indramayu sudah memiliki Jayana yang pantas disebut sang legendaris tarling karena sudah eksis dari tahun 1950-an, bahkan Hj Dariyah, Kosim, Tiplok, dan Kaji Sawud jauh lebih tenar dibanding Abdul Abjid dan sebagian dari mereka hidup pas-pasan. 
Kesenian tradisional lain seperti Debleng dengdet, Laisan, Kuda lumping, Berokan dan lain-lain perlu mendapat perhatian dari kita semua, juga pemerintah jangan memilah jenis kesenian tertentu untuk tujuan pencitraan penguasa yang berskala pendek dan pemerintah pun harus menunjuk Pamong Budayanya dari kalangan seniman lokal agar selaras laksana tembang dan gamelan karena sang pamong tidak hanya memperhatikan penampilan dipanggung tapi juga melestarikan dan menghidupkan kembali warisan seni yang ada, dan yang lebih penting lagi memperhatikan kehidupan para pelaku seni tradisional yang nasibnya mungkin lebih buruk dari almarhumah mimi Rasinah.
Akhirnya kita mesti berbangga betapa budaya seni yang ada adalah bukti kemandirian bangsa kita dulu yang memang kini harus diakui semakin tergerus budaya asing, setidaknya
Nenek moyang kita dulu menunjukan kalau bangsa kita benar-benar hebat !

(Penulis Kang Yana Cikedung, tinggal di Cikedung, dari berbagai sumber)


Warisan Mimi Untuk Indonesia

Kali ini saya akan menceritakan dan membahas ya.. tentang Warisan Mimi Untuk Indonesia.
Perjalanan ke Indramayu mengunjungi sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah memang penuh cerita. Meski nama sang Maestro sudah menggema sampai ke benua lain, jangan harap penduduk setempat langsung tahu di mana lokasi sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah. Akhirnya kami memilih untuk bertanya dengan menggunakan nama desa tempat sanggar tersebut terpetakan, desa Pekandangan. Yang lebih unik, kira-kira 3 km dari tempat tujuan kami itu, penduduknya justru lebih familiar dengan tari topeng Aerli Brandon, itupun baru populer belakangan akibat kolaborasi tari antara Aerli dan Brandon dalam acara pencarian bakat yang ditayangkan oleh salah satu stasiun tv swasta. Miris sungguh...

Papan nama sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah hampir terlewatkan oleh kami karena plang-nya yang sangat kecil dan sudah mengelupas. Letak sanggarnya sendiri hanya berjarak sekitar 10 meter dari plang tersebut. Suasana sanggar tampak sepi ketika kami datang dan menyerukan salam. Hanya Aerli, cucu mimi Rasinah, dan ibundanya, ibu Wacih, yang menyambut kedatangan kami. Tak berapa lama datang beberapa pengurus sanggar lainnya. Salah satunya Ade, suami Aerli.

Dalam beberapa saat kami sudah terlibat obrolan hangat. Sambil kami mengamati isi sanggar yang sederhana tetapi sejuk, Ibu Wacih, putri semata wayang Mimi, bergantian dengan Aerli mengisahkan perjuangan sanggar Mimi Rasinah dalam mempertahankan tradisi dan budaya. Ade menambahkan, bagi mereka tari topeng adalah warisan adiluhung yang harus dijaga kelestariannya. Namun mereka menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap usaha mereka ini. Setidaknya menghargai apa yang telah mereka lakukan adalah untuk mempertahankan identitas bangsa.

Rasa haru merasuki kami seketika. Kami sampai merasa malu karena kami sendiri merasa belum berbuat apa-apa untuk itu. Rasa haru itu semakin menjadi ketika Rani, cucu bungsu Mimi yang masih berusia 8 tahun, dengan gesitnya menghentakkan kaki, mengikuti ritme gendang, gong dan gamelan, menunjukkan kemampuan menarinya di hadapan kami. Ibu Wacih mengenang, dulu Aerli juga memulai diusia yang sama ketika berlatih menari topeng untuk pertama kalinya. Setelah sebelumnya harus ngamen di tujuh tempat berbeda dalam satu hari sebagai syarat, sekarang Aerli telah mewarisi seluruh topeng dan asesorinya dari Mimi melalui upacara yang mengharukan, Mimi membawakan tari topeng Panji Raga Sukma bersama sang cucu penerus dua minggu sebelum Mimi berpulang. Persis seperti yang terlukis di salah satu sisi dinding sanggar.

Raga Mimi Rasinah boleh jadi sudah bersatu dengan tanah. Namun warisannya yang tak ternilai mengingatkan kita bahwa Indonesia pernah memiliki seorang Maestro Tari Topeng, Mimi Rasinah.

Menerbangkan ‘Ruh’ Sang Maestro ke Penjuru Dunia

SOSOK maestro tari topeng Indramayu Mimi Rasinah memang sudah tidak ada. Namun demikian sampai saat ini jasa, karya, dan prestasinya tetap abadi di tengah masyarakat Indramayu.
Bahkan bagi Pemkab Indramayu dan Yayasan Tari Topeng Mimi Rasinah, ‘ruh’ Mimi Rasinah tetap ada dan kini ‘ruh tersebut akan terus diterbangkan ke berbagai penjuru dunia.
Upaya menerbangkan ‘ruh’ Mimi Rasinah tersebut melalui gelaran dengan title Tribute to Mimi Rasinah 2 dengan tagline ‘Dari Indramayu Untuk Dunia’, yang akan digelar selama dua hari 19-20 Juli mendatang dan dipusatkan di Monumen Tugu Perjuangan Simpang Lima Indramayu.
Tribute to Mimi Rasinah 2 merupakan kelanjutan dari event sama yang pernah digelar pada tahun 2018 lalu. Dalam pelaksanaannya, Tribute to Mimi Rasinah selalu menghadirkan talent dari berbagai wilayah di Indonesia maupun luar negeri.
Ketua Yayasan Tari Topeng Mimi Rasinah, Edi Supriyadi, menjelaskan, pagelaran Tribute to Mimi Rasinah digelar setiap tahun dan selalu menghadirkan talent yang berbeda. Panitia memberikan talent dari luar Indramayu untuk menampilkan tari tradisional yang berasal dari talent tersebut, namun yang bersangkutan juga harus mampu menari topeng yang menjadi ciri khas Mimi Rasinah.
Begitu juga dengan talent dari luar negeri, mereka akan menari dengan ciri khas tarian tradisional dari negaranya. Tapi pada saat bersamaan mereka juga harus mampu menari gerakan tari topeng yang menjadi ciri khas sang maestro.
“Kita ingin menerbangkan ruh Mimi Rasinah ini ke berbagai penjuru Indonesia dan dunia, kita ingin Mimi Rasinah bukan hanya di Indramayu, tapi ingin ada di berbagai tempat,” katanya.
Tribute to Mimi Rasinah tahun 2019 ini, lanjut Edi, akan dimeriahkan oleh talent-talent lokal seperti siswa Sanggar Mimi Rasinah, Binaan Lapas Indramayu, Iing Sayuti Indramayu, Bunyi Surya Bogor, Oos Koswara Bandung, Moh Wali Madura juga dimeriahkan oleh pelaku seni dari Amerika Serikat yakni Amanda. “Amanda ini sangat piawai dalam membawakan tari topeng dan tari jaipong,” ujarnya.
Sementara itu Bupati Indramayu H. Supendi mengatakan, pagelaran Tribute to Mimi Rasinah merupakan komitmen dari Pemkab Indramayu untuk terus menggaungkan nama Indramayu ke berbagai wilayah. Mimi Rasinah sangat terkenal bahkan sampai ke berbagai dunia, untuk itu sudah sepantasnya jika Pemkab Indramayu memberikan apresiasi dan penghargaan kepada Maestro Mimi Rasinah tersebut.
“Nama Indramayu ikut terangkat ketika tari topeng terangkat hingga ke dunia. Oleh karenanya untuk mengenang perjuangan dan pengabdian Mimi Rasinah terhadap kelestarian tari topeng, Pemkab Indramayu dan Yayasan Tari Topeng Mimi Rasinah kembali menggelar Tribute to Mimi Rasinah,” terangnya.
Berharap, Tribute to Mimi Rasinah bukan hanya merupakan agenda rutin tahunan namun bersamaan dengan event tersebut harus bisa mendatangkan wisatawan dan mengangkat berbagai potensi yang ada di Kabupaten Indramayu.

Minggu, 12 Januari 2020

Unsur Kebudayaan pada Tari Topeng


Unsur Yang terkandung Kebudayaan pada Tari Topeng

Indonesia adalah negeri yang kaya raya mempunyai beribu pulau, suku, agama, adat, budaya serta tradisi yang sudah ada sejak dahulu. Keragaman yang ada membuat tradisi dan kebudyaan disetiap daerah mempunyai ciri khas dan keunikan masing-masing. Ciri khas dan keunikan yang ada menjadi simbol dan merupakan daya tarik tersendiri tradisi tersebut. Menjaga serta melestarikan budaya adalah suatu hal yang penting dilakukan karena budaya merupakan jati diri sebuah bangsa. oleh karena itu para pemuda harus bisa menjaga dan melestarikannya bukan saja tradisi daerah sendiri melainkan juga semua tradisi yang ada di Indonesia.

Kebudayaan adalah hasil akan dan budi manusia yang saling terikat oleh unsur-unsur yang ada. Menurut Koentjaraningrat kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, dan tindakan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar. kebudayaan ini bersifat memaksa yang dijadikan sebuah nilai dan aturan di dalam sebuah masyarakat.Salah satu kebudayaan yang ada di Indonesia adalah Tari Topeng. Tari Topeng merupakan kebudayaan yang terkenal berasal dari Jawa Barat khususnya daerah Indramayu dan Cirebon. Dikatakan Tari Topeng, karena para penarinya saat pementasaan tari ini menggunakan topeng. 

Didalam kesenian Tari Topeng ada banyak unsur kebudayaan (cultural universal) yang terdapat didalamnya. unsur-unsur tersebut adala: 

1. Bahasa
Bahasa merupakan suatu pengucapan yang indah dalam sebuah kebudayaan serta sebagai alat perantara untuk berkomunikasi antar satu orang dengan orang lainnya. Bahasa yang umumnya digunakan di daerah Jawa Barat adalah Sunda tetapi lain halnya dengan dua daerah ini yakni Indramayu dan Cirebon menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan berbeda dengan bahasa Jawa di Jawa Tengah, Yogyakarta serta Jawa Timur. Hal tersebut dikarenakan dua kota tersebut merupakan kota persinggahan dan perbatasan dengan Jawa Tengah. Sudah sejak zaman dulu dalam kesenian Tari Topeng menggunakan bahasa Jawa begitupun juga dengan iringan lagu yang mengiri pagelaran Tari Topeng ini. 
2. Sistem pengetahuan
Sistem Pengetahuan berupa pengetahuan tentang kondisi alam disekeliling serta penggunaan peralatan di kehidupannya. Dengan adanya kemajuan pengetahuan di segala bidang kehidupan sangat memudahkan manusia untuk menjalankan aktivitas sehari-hari dan menambah pengetahuan manusia akan sesuatu sehingga dapat meningkatkan taraf hidupnya. sistem pengetahuan ini dapat berupa flora dan fauna, pengetahuan tentang alam sekitar, waktu, ruang, dan bilangan, sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia serta tubuh manusia. Pada kesenian Topeng ini pengetahuan sangat diperlukan untuk menjaga dan melestarikan kesenian ini. Bagaimana untuk mempertahankan eksistensi Tari Topeng di zaman teknologi sekarang dan bersaing dengan kebudayaan dari luar yang masuk ke Indonesia. Pengesuaian kesenian dengan perkembangan zaman ini harus tetap mempertahankan nilai luhur yang terkandung didalamnya. Kita tahu bahwa pemuda beranggapan bahwa budaya asli indonesia itu kuno, alhasil banyak diantara mereka yang mengadopsi kebudayaan lain yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang ada. 

3. Sistem kemasyarakat atau organisasi sosial
Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial merupakan sekelompok masyarakat dimana anggotanya memiliki kekerabatan yang sangat erat antar sesamanya. Indonesia adalah negara yang terkenal memiliki rasa kekeluargaan yang sangat tinggi. Di setiap kegiatan di masyarakat pasti akan selalu bekerja sama, gotong royong, dan saling membantu satu sama lain demi terlaksananya kegiatan tersebut. Dalam pementasan kesenian Tari Topeng warga masyarakat juga ikut serta membantu menyiapkan tempat pementasan terutama para laki-lakinya. Selain itu mereka juga menyiapkan sesaji sebagai syarat dalam pementasan Tari Topeng jika kesenian ini diadakan bukan semata sebagai hiburan tetapi pada acara sakral seperti hari jadi.

4. Sistem peralatan hidup dan teknologi
sistem peralatan hidup dan teknologi dapat berupa kebudayaan fisik berupa alat produksi, wadah, makanan dan minuman, peralatan yang digunakan. Pada kesenian Tari Topeng ini sangat mengikuti perkembangan zaman dan moderenisasi demi untuk menjaga eksistensi agar tetap dikenal dikalangan generasi muda. Ketika dulu pengiring Tari Topeng yaitu penyanyi hanya menggunakan suara aslinya tanpa alat bantu apapun sehingga suara yang dihasilkan tidak terlalu terdengar ditambah dengan banyaknya masyarakat untuk menonton kesenian ini. seiring berkambangnya zaman pengiring musik atau pengiring lagu tari topeng tidak harus mengeluarkan energi secara ekstra seperti dulu untuk mengiringi tari topeng, namun sekarang pengiring dapat menggunakan pengeras suara atau biasa yang disebut sound dan pengiring penyayi atau penyinden dapat menggunakan mic agar suaranya dapat terdengar lebih keras. cara ini dapat digunakan secara fleksible tergantung kebutuhan serta tergantung acaranya. contohnya pada acara lebih sakral seperti hari jadi kota ataupun acara ritual tahunan pada suatu desa atau lingkungan tertentu biasanya masih menggunakan media tradisional, sedangkan pada acara yang lebih moderen seperti pentas seni tari yang diadakan di dalam sekolah, fetival kebudayaan, pest rakyat dan masih banyak lagi.
5. Sistem mata pencaharian hidup
mata pencarian masyarkat di Desa yang umumnya sebagai petani, kini menjadikan sebuah profesi pengiring lagu tari topeng menjadi mata pencarian sampingan. Ada beberapa yang menjadikan mengiring atau penari tari topeng ini sebagai mata pencarian utama dikarenakan masyarkat atau beberapa orang sekitar yang sangat terpikat serta dengan senang hati menjadikan hobinya sebagai sesuatu yang menguntungkan dengan kata lain hobi yang dibayar. biasanya hal ini dilakukan oleh para pelajar, mahasiswa serta kaum-kaum muda dan beberapa penerus tari topeng sendiri yang menjadikan hal itu sebagai mata pencarian utama.
6. Religi atau kepercayaan 
 unsur religi merupakan unsur utama dalam tradisi tari topeng. usnur religi adalah sebuah sistem antar keyakinan dengan praktek keagamaan yang berhubungan dengan hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akar pikiran pada dasarnya tradisi tari topeng mengandung unsur religi karena tari topeng merupakan bentuk rasa syukur dan rasa terima kasih serta rasa hormat terhadap para leluhur kita terdahulu.
7. Kesenian. 

Kesenian adalah segala hasrat manusia terhadap keindahan yang dapat memberikan kepuasa batin pada manusia. Bentuk kesenian dibagi dalam tiga garis besar yaitu seni rupa, seni suara, dan seni tari. Kesenian ini menjadi hiburan dan daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ikut merayakan tradisi ini.