Senin, 27 Januari 2020

MAKNA TARI TOPENG

Tari Topeng Cirebon dengan gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, memang memiliki ciri khas tersendiri. Tidak hanya itu, ternyata sarat makna dan filosofis.

Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Cirebon – Jawa Barat Indonesia. Tari ini dinamakan tari topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng.

Konon pada awalnya, Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang.

Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang yang diberi nama Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.

Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya.

Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan.

Seiring dengan berjalannya waktu, Tari Topeng Cirebon inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang.

Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah. Uniknya, tiap warna topeng yang dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari karakter tokoh yang diperankan.

Tari Topeng Cirebon ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya.

Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai.

Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari.

Seperti yang disebutkan diatas, masing-masing warna topeng yang dikenakan mewakili karakter tokoh yang dimainkan, sebut saja misalnya warna putih. Warna ini melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim. Sedangkan topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (tempramental) dan tidak sabaran. Dan busana yang dikenakan penari sendiri adalah biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng.

Jika anda berminat untuk menyaksikan tarian yang dimainkan oleh satu atau beberapa orang penari cantik, seorang sinden, dan sepuluh orang laki-laki yang memainkan alat musik pengiring, di antaranya rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, gong, dan bendhe ini, silahkan datang saja ke Cirebon. Tarian ini biasanya akan dipentaskan ketika ada acara-acara kepemerintahan, hajatan sunatan, perkawinan maupun acara-acara rakyat lainnya.


Makna dan Filosofis Tari Topeng Cirebon

Tari topeng Panji Cirebon

Selain memiliki nilai historis, Tari Topeng Cirebon sarat akan makna dan filosofis. Terutama untuk tari jenis topeng Panji yang terkenal sangat paradoks itu.

Kenapa dikatakan paradoks karena dalam tari topeng Panji Cirebon ini terkandung unsur-unsur yang saling bertentangan. Pertentangan-pertentangan itu dapat ditemukan dari beberapa hal yang diantaranya adalah topeng yang dikenakan dalam tari Topeng Panji yang berwarna putih polos tanpa hiasan sama sekali hingga tak dapat dibedakan apakah topeng ini menggambarkan sosok lak-laki atau sosok perempuan, gerak tari pun demikian, tak dapat dibedakan apakah itu gerak seorang yang mewakili sifat maskulinitas lelaki atau femininitas perempuan.

Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan gamelannya begitu gemuruh. Kalau meminjam kata-katanya Prof. Drs. Jakob Sumardjo,

gerak Tarian Panji seolah-olah “tidak menari”.

Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka ia merupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakiki diam. Satu hal lainnya yang membuat tari topeng panji Cirebon sedemikian paradoks adalah karena meski tari ini dihadirkan sebagai pembuka dari rangkaian tari topeng Cirebon lainnya yakni Pamindo-Rumyang dan Patih-Kelana tapi tari panji mengandung unsur dari keempat tari topeng itu sendiri. Ia hadir selaku pembuka sekaligus juga perwujudan dari klimaks pertunjukan tari topeng itu sendiri.

Selain itu, untuk menarikan tari topeng panji ini tidak sembarang orang bisa menarikannya. Itulah sebabnya ada pendapat yang mengatakan bahwa hakikinya pada zaman dulu tari topeng panji ini adalah jenis tarian para raja Jawa yang lebih dekat ke sisi spiritualnya daripada sebagai tontonan.

Pendapat ini muncul karena Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja Majapahit yaitu Prabu Hayam Wuruk pernah menari topeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit.

Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja, ibu mertua raja, ibunda raja). Pun begitu dengan Raden Patah yang menari Topeng di kaki Gunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya.

Inilah yang membuktikan bahwa Tari Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton.

Dan karena sakralnya tarian ini maka sebelum pelaksanaan tari topeng Cirebon ini seorang penari harus terlebih dahulu melakukan laku puasa, berpantang pada sesuatu, dan semedi. Selain itu juga dipersembahkan segala macam sesajian yang mengandung unsur-unsur dualisme sekaligus pengesaan yang antara lain mewujud dalam berbagai sesajian yang sering dijumpai yang diantaranya bedak, sisir, cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki.

Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang Dunia Atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang Dunia Bawah, air putih lambang Dunia Atas, air teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.

Kelebihan dan Kekurangan Seni Tari

Seni Tari Tradisional


Kelebihan dari seni tari tradisional yaitu bisa mempertahankan tarian khas daerah tersebut, kekurangannya yakni mungkin banyak yang tidak tertarik dengan seni karena orang pada zaman sekarang sudah serba modern saja. Berikut ini beberapa kelebihan serta kekurangan dari seni tari tradisional.


Kelebihan Seni Tari Tradisional

1. Dapat dinikmati oleh semua usia 

Gerakan gerakan tari tradisional yang kalem dibandingkan dengan tarian modern dengan gerakan cepat unik dan penuh power lebih disukai dan dapat dinikmati oleh semua usia. Maksudnya dapat dinikmati oleh semua usia disini adalah bahwa dalam pagelaran seni traditional semua bentuk gerakan dan tarian bisa dilihat dan dirasakan karyanya oleh semua orang berbeda dengan tari modern yang kebanyakan orang tua tidak menyukainya. 

2. Mencerminkan budaya asli daerah 

Tarian modern lebih dikenal sebagai salah satu budaya asing yang masuk dan menjangkiti pada pemuda. Bentuk dan gerakan tarian tersebut sangat tidak mencerminkan budaya asli daerah serta tidak mendukung bentuk pelestarian budaya pada anak muda. Berbeda dengan tari modern, seni tari tradisional lebih mencerminkan kebudayaan asli nusantara karena berasal dan berkembang dalam wilayah wilayah terutama pedalaman yang belum tersentuh oleh budaya asing meskipun ada beberapa bentuk tari yang tetap terpengaruh budaya asing namun tidak dominan dan tetap mempertahankan budaya asli daerah tersebut. 

3. Memiliki fungsi yang banyak 

Seperti yang dijelaskan pada salah satu kalimat pembuka diatas bahwa fungsi tari modern lebih sedikit dibandingkan dengan tarian traditional. Sebagian besar tarian modern hanya berfungsi sebagai sarana hiburan dan media pergaulan saja. Sedangkan tarian traditional lebih memiliki banyak peran dan fungsi bahkan ada beberapa tari traditional yang sifatnya sangat sakral. Beberapa fungsi tersebut diantaranya seperti :

Sarana upacara, contoh seni tari nusantara yang memiliki fungsi ini adalah seni tari pendet dari bali yang digunakan dalam beberapa upacara keaamaan. 
Sarana hiburan, contoh seni tari nusantara yang memiliki fungsi ini salah satunya tari tayub dari jawa tengah dan tari jaipong dari jawa barat yang termasuk kebudayaan suku sunda. 
Sarana penyaluran terapi, beberapa tari nusantara digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif dan terapi untuk penyakit tertentu. 
Beberapa fungsi lainnya, seperti sebagai penyambutan tamu, ibadah kepada sang pencipta, sarana pendidikan, sarana pergaulan, dan sarana pertunjukan. 


Kekurangan Seni Tari Tradisional :

1. Tidak mengikuti zaman atau up to date 

Sebagai salah satu tarian yang muncul lebih lama dibandingkan dengan tari modern, tari traditiona lebih sulit untuk mengikuti perkembangan jaman atau sering dikenal dengan istilah kurang up to date. Bentuk tarian tradisional akan sulit berkembang mengikuti tren dan perkembangan gaya hidup masyarakat modern terutama anak mudanya sehingga ada kemungkinan akan punah jika tidak dilestarikan. 

2. Tidak banyak diminati oleh kaum muda 

Hampir semua elemen kaum muda dunia menyukai bentuk tarian modern yang tidak kuno serta membosankan seperti tarian traditional pada umumnya. Tari tradisional ini terkesan lebih memiliki gerakan yang lambat dengan musik pengiring yang sangat kalem serta kurang power sehingga tidak diminati oleh para anak anak muda sekarang ini. 

3. Pelestari karyanya lebih sedikit dibandingkan dengan tari modern 

Penari tari tradisional dari tahun ke tahun jumlahnya semakin menurun sehingga ada ancaman bahwa pelestari karyanya akan terus berkurang. Kondisi tersebut menyebabkan munculnya resiko hilang dan punahnya beberapa tari tari traditional tersebut. 


Seni Tari Modern
Kelebihan dari seni tari modern yaitu mudah diikuti atau ditiru, seni tari modern juga mudah di kreasikan sebab tidak ada aturan baku atau gerakan yang melambangkan kedaerah seperti tari tradisional, tari modern juga mudah di temui, tari modern dapat dikatakan sebagai seni dimana para anak muda dapat berkreatifitas dan berinovasi pada seni tari. Kekurangannya yaitu tari modern tidak memiliki gerakan simbolik khusus seperti pada tari tradisional. Berikut ini beberapa kelebihan serta kekurangan seni tari modern.

Kelebihan Seni Tari Modern :

1. Mengikuti zaman atau up to date 

Sebagai salah satu tarian yang muncul lebih baru dibandingkan dengan tari traditional, tari modern lebih bisa mengikuti perkembangan jaman atau sering dikenal dengan istilah up to date. Bentuk tarian modern akan terus berkembang mengikuti tren dan perkembangan gaya hidup masyarakat modern terutama anak mudanya. 

2. Banyak diminati oleh kaum muda 

Hampir semua elemen kaum muda dunia menyukai bentuk tarian modern yang tidak kuno serta membosankan seperti tarian traditional pada umumnya. Banyaknya peminat ini menjadikan tarian modern lebih mudah diterima oleh masyarakat saat ini dibandingkan dengan tari tari nusantara tradisional lainnya. 

3. Gerakannya energik 

Berbeda dengan gerakan dari penari tradisional yang kalem, gerakan tarian modern lebih energik dan penuh dengan power sehingga cocok untuk anak muda yang membutuhkan wadah menyalurkan keinginan besarnya dalam bentuk tarian modern. Gerakan energik pada tarian modern tersebut sangat mendukung kebutuhan bagi para anak muda saat ini. 

4. Penikmat karyanya lebih banyak dibandingkan dengan tari tradisional 

Jika dinilai dari jumlah penikmat yang menikmati tarian, penikmat tari modern lebih banyak terutama pada kaum muda dibandingkan dengan penikmat tarian tradisional. Jumlah penonton pada setiap pagelaran atau pertunjukannya juga selalu lebih banyak. Selain penikmat, menari dengan gaya tari modern juga lebih banyak diminati oleh anak muda untuk dipelajari lebih mendalam dibandingkan dengan tarian traditional. 

5. Memiliki banyak jenis dan terus berkembang 

Jenis dan macam tarian traditional lebih bergantung pada daerah asal tari tersebut dan tidak akan mengalami perkembangan yang berarti. Berbeda dengan tari tradisional tersebut, tarian modern akan mengalami perkembangan yang terus menerus dan akan selalu mengikuti perkembangan zaman serta melahirkan berbagai jenis tarian baru. 


Kekurangan Seni Tari Modern :

1. Tidak dapat dinikmati oleh semua usia 

Tarian modern lebih identik dengan anak muda yang energik sehingga sangat terbatas penikmatnya. Beberapa orang tua lebih menyukai gerakan gerakan tari traditional yang kalem dibandingkan dengan tarian modern dengan gerakan cepat unik dan penuh power. 

2. Tidak mencerminkan budaya asli daerah 

Tarian modern lebih dikenal sebagai salah satu budaya asing yang masuk dan menjangkiti pada pemuda. Bentuk tarian tersebut sangat tidak mencerminkan budaya asli daerah serta tidak mendukung bentuk pelestarian budaya pada anak muda. 

3. Memiliki fungsi yang lebih sedikit dibandingkan dengan tari tradisional 

Seperti yang dijelaskan pada salah satu kalimat pembuka diatas bahwa fungsi tari modern lebih sedikit dibandingkan dengan tarian tradisional. Sebagian besar tarian modern hanya berfungsi sebagai sarana hiburan dan media pergaulan saja. Sedangkan tarian traditional lebih memiliki banyak peran dan fungsi bahkan ada beberapa tari tradisional yang sifatnya sangat sakral. 

PEMBUAT TOPENG DAN MAESTRO TARI TOPENG


Maestro Tari Topeng (almh) Mimi Rasinah. Ia lahir di Indramayu, 03 Februari 1930. Ia merupakan satu-satunya yang tersisa sejak wafatnya Sawitri, penari topeng asal Losari pada 1999. Dari kecil, almarhumah Mimi sudah menggeluti tari topeng yang diajarkan ayahnya. Sejak tahun 1990, ia telah berkelana untuk pentas tari topeng ke luar negeri, Jepang, Belanda, Paris, dan berbagai negara. Hidupnya dihabiskannya demi memperkenalkan dan mengembangkan tari topeng, berikut ke-khas-an topeng-topengnya.

Dari kecil Mimi sudah menggeluti tari topeng yang diajarkan ayahnya. Keseriusan Mimi Rasinah dalam menggeluti kesenian tari topeng dibuktikan dengan mempertahankan tradisi tari ini, sehingga banyak yang menyebutnya klasik.

Sejak tahun 1990 ia sudah berkelana untuk pentas tari topeng ke luar negeri: Jepang, Belanda, dll. Hidupnya dihabiskannya demi pengembangan tari topeng. Saat ini Mimi terbaring sakit karena stroke. Meskipun demikian, kegiatan latihan tari topeng di Sanggar Tari “Mimi Rasinah” di desa Pekandangan, Kecamatan Indramayu, tetap berjalan terus.

Puluhan tahun Ia mengabdikan hidupnya demi tari topeng ini. Hingga akhirnya, Sabtu 06 Agustus 2010 silam, Mimi Rasinah pergi selama-lamanya dari dunia seni tari tradisional alias klasik. Meski telah meninggal, tarian ‘Mimi’ masih hidup hingga sekarang di Sanggar Tari Mimi Rasinah di Desa Pekandangan, Kecamatan Indramayu, Jawa Barat. Tari Topeng hidup terus, tak pernah mati oleh apapun dan kapanpun.

Di wilayah Cirebon khususnya di daerah Kasepuhan, ada seorang geliat pengrajin tradisional Topeng Cirebon. Topeng-topeng inilah dihasilkan dari sang maestro juga, maestro pembuat topeng kayu pahat Cirebonan. Ia adalah almarhum Hasan Nawi. Sejak tahun 1980, tangan Hasan Nawi mulaim piawi dalam pembuat topeng-topeng Cirebonan.





Ada lima topeng khas Cirebon, yang secara harafiah mengartikan sifat-sifat manusia dalam kehidupan nyata, yang disebut dengan istilah Topeng Panca Wanda, yaitu :
1. Topeng Panji, wajahnya yang putih bersih melambangkan kesucian bayi yang baru lahir.
2. Topeng Samba, topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu dan lincah. 
3. Topeng Rumyang, wajahnya menggambarkan seorang remaja. 
4. Topeng Patih atau Tumenggung, yang menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas,               berkepribadian, serta bertanggung jawab. 
5. Topeng Kelana, yakni topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah.

Semua topeng-topeng itu mempunyai makna tingkatan sifat manusia dari kesucian berubah menjadi angkara murka bercampur sifat dengki. Semuanya digambarkan dalam topeng Hasan Nawi. Inilah istimewanya…

Sejak itu pula, nama Hasan Nawi cukup terkenal dijagad per-topengan tradisional. Di tempat yang tidak luas di Kampung Mandalangen, Keraton Kasepuhan Cirebon, inilah almarhum pernah mendapatkan Penghargaan Upakarti dari Presiden RI tahun 2007 sebagai Pengrajin Topeng Pelestari Seni Budaya.

Di tempat ini pula, sejak kepergiannya selama-lamanya pada 19 Februari 2010, almarhum berpesan kepada 8 putra-putrinya untuk terus melestarikan seni budaya tradisional memahat topeng Cirebon ini.

Ade Supriyadi, anak kelima-lah, sejak tahun 2006 yang dengan teguh dan tekad kuat untuk terus meneruskan kerajinan Topeng Cirebon ini. Bersama 20-an pengrajin topeng, ia bertekad tetap mempertahankan budaya topeng Cirebon.

Dengan Topeng Cirebon ini pula, sejak lama, telah memberikan manfaat bagi masyarakat banyak. Kayu jaran, alat pahat, media gambar, serta keringat-keringat cucuran, adalah usaha keras pemberdayaan masyarakat dari tradisi budaya kerajinan Topeng Cirebon ini. Semestinya ini adalah asset bangsa yang harus tetap didorong, agar tangan-tangan terampil dari sebuah perjuangan hidup, dapat dikenal hingga ke manca negara. Semua Maha Karya Indonesia.

Kesimpulan
Berdasarkan asal katanya tersebut,maka tari topeng pada dasarnya merupakan seni tari tradisional masyarakat Cirebon yang secara spesifik menonjolkan penggunaan penutup muka berupa topeng atau kedok oleh para penari pada waktu pementasannya.


Bahwa unsur-unsur yang terdapat dalam seni tari topeng Cirebon mempunyai arti simbolik dan penuh pesan-pesan terselubung,baik dari jumlah kedok,warna kedok,jumlah gamelan pengiring dan lain sebagainya.hal tersebut merupakan upaya para wali dalam menyebarkan agama Islam dengan menggunakan kesenian Tari Topeng setelah media Dakwah kurang mendapat Respon dari masyarakat.  Tari Topeng mempunyai nilai hiburan yang mengandung pesan-pesan terselubung, karena unsur-unsur yang terkandung didalamnya mempunyai arti simbolik yang bila diterjemahkan sangat menyentuh berbagai aspek kehidupan, sehingga juga mempunyai nilai pendidikan. Variasinya dapat meliputi aspek kehidupan manusia seperti kepribadian, kebijaksanaan, kepemimpinan, cinta bahkan angkara murka serta menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak dilahirkan hingga menginjak dewasa.

Jumlah Topeng / Kedok seluruhnya ada 9 (sembilan) buah, yaitu : Panji, Samba atau Pamindo, Rumyang, Tumenggung atau Patih, Kelana atau Rahwana, Pentul, Nyo atau Semblep, Jinggannom dan Aki-aki. Dari kesembilan topeng / kedok tersebut yang dijadikan sebagai kedok pokok hanya 5 (lima) buah yaitu :Panji atau Samba, Rumyang, Tumenggungn dan Kelana. Sedangkan empat keddok lainnya hanya digunakan apabila dibuat ceruta/ lakon seperti cerita Jaka Blowo, Panji Blowo, Panji Gandrung dll.

Seperti yang telah diutarakan diatas, bahwa unsur-unsur yang terdapat dalamseni tari topeng Cirebon mempunyai arti simbolik dan penuh pesan-pesan terselubung, baik dari jumlah kedok, warna kedok, jumlah gamelan pengiringdan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan upaya para Wali dalammenyebarkan agama Islam dengan menggunakan kesenian Tari Topeng setelah media Dakwah kurang mendapat Respon dari masyarakat.

BUDAYA INDONESI YANG MENDUNIA


Indonesia merupakan negara yang kaya akan alam dan budanyanya. Sebagai negara yang dilintasi oleh garis khatilistiwa Indonesia tidak hanya menawarkan pesona keindahan alamnya yang memang sudah terkenal ke berbagai penjuru dunia, Indonesia juga mempunyai keaneka ragaman budaya dari Sabang sampai Merauke. Indonesia sendiri tercatat sebagai saah satu negara paling kaya akan ragam budaya di dunia.

Beberapa budaya Indonesia juga sudah diakui oleh dunia dan sudah tercatat oleh UNESCO, bahkan tidak sedikit warga negara asing (WNA) yang tertarik dengan kekayaan budaya Indonesia dan tidak segan-segan mengeluarkan biaya untuk tinggal di Indonesia untuk belajar budaya yang dikaguminya ini.

Sebagai warga Indonesia sudah sepantasnya kita turut bangga denga kebudayaan yang telah ada di negara tercinta ini, dan sudah selayaknya ingin mewarisi budaya ini dengan mempelajarinya agar tidak kalah dengan warga negara asing yang justru sangta menghargainya. Berikut dapat kita simak warisan-warisn budaya Indonesia yang mendunia berikut ini.

1. Wayang

Wayang merupakan seni pertunjukan yang dimainkan oleh seorang dalang dan biasanya diiringi musik gamelan dan suara merdu soerang pesinden. Kisah yang diceritakan dalam lakon pewayangan biasanya berkisar tentang kisah para punakawan seperti Petruk, Semar, bagong, dan Gareng.
Wayang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dari bangsa Indonesia pada tahun 2003 dan telah dikenal luas oleh masyarakat dunia. Bahkan kini sudah banyak orang asing yang turut mempelajari kesenian yang berasal dari tanah Jawa ini, biasanya para Wara Negara Asing (WNA) yang tertarik dengan kesenian ini akan tinggal didaerah tertentu menuntut ilmu kesenian wayang sebagai mahasiswa atau langsung pada seorang dalang terkenal dan mumpuni.

2. Angklung

Angklung merupakan alat musik kesenian tradisional dari Jawa Barat bernada ganda yang dimainkan dengan cara digoyangkan (baca: nama alat musik tradisional ). Alat musik Angklung Indonesia telah mendapat pengakuan resmi dari UNESCO sebagai bagian dari World Heritage pada 19 Januari 2011. Sertifikat pun diserahkan oleh mantan Duta Besar RI untuk UNESCO, Tresna Dermawan Kunaefi kepada Menteri Pendidikan Nasional pada masa itu, yaitu Muhammad Nuh.
Selain menjadi warisan budaya alat musik Indonesia yang digemari oleh sebagian besar kalangan Angklung pun ternyata digemari di luar negeri, negara-negara seperti Korea, Jepang, dan Malaysia telah mengenalkan angklung pada anak-anak usia sekolah di negara mereka masing-masing.

3. Keris

Keris adalah senjata tradisional dari Indonesia yang diyakini mengandung kekuatan magis atau supranatural. Keris biasanya digunakan oleh para anggota kerajaan sebagai senjata pusaka yang dituakan. Keris sendiri telah digunakan di Indonesia sejak abad ke-9, keris terbuat dari logam berkualitas, bahkan untuk keris kuno, banyak ditemukan terbuat dari bahan logam meteor yang jatuh kebumi. Menurut para peneliti keris kuno seridaknya mengandung unsur logam titanium, suatu bahan yang baru pada abad 20 digunakan sebagai bahan pelapis kendaraan untuk luar angkasa . Gagang keris sendiri biasanya terbuat dari tulang belulang, kayu, ataupun tanduk binatang.UNESCO juga mengakui Keris sebagai “Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity” pada tanggal 25 November 2005.

4.Tari Saman

Tari Saman merupakan tarian yang berasal dari suku Gayo yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat daerah setempat. Syair yang digunakan dalam tarian Saman menggunakan campuran bahasa Arab dan bahasa Gayo (baca: Makna tari saman dari aceh). Dalam beberapa referensi menyebutkan bahwa tari Saman di Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari daerah Gayo di Aceh Tenggara.
Tarian saman termasuk menjadi salah satu tarian yang cukup unik,kerena hanya menampilkan gerak tepuk tangan gerakan-gerakan lainnya tanpa adanya pergeseran dan liak-liuk anggota tubuh lain dan kaki, penamaan dari gerakan pada tarian saman ini ada guncang, kirep, lingang, surang-saring (semua nama gerakan tari saman dalam bahasa Gayo) Tari Saman dari Gayo Lues dan sekitarnya di Provinsi Aceh resmi diakui dan masuk dalam daftar warisan budaya tak benda yang memerlukan perlindungan mendesak UNESCO, pada Sidang akbar tahunan yang dihadiri lebih dari 500 anggota delegasi dari 69 negara, LSM internasional, pakar budaya dan media di Bali pada 22 – 29 November 2011

5. Reog Ponorogo

Reog Ponorogo merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang berasal dari daerah Jawa Timur, Reog Ponorogo adalah salah satu kesenian tradisional yang berupa tarian yangsampai saat ini masih terus dijaga kelestariannya oleh masyarakat setempat. Sebagai daerah yang terkenal sebagai kota asal reog ponorogo gerbang kota ini dihiasi oleh dua sosok yang biasanya tampil dalam pertunjukan reog, yaitu sosok Warok dan Gemblak.
Dalam pementasan Reog Ponorogo tidak ada skenario tarian yang pasti dan paten, biasanya seniman reog mementaskan berdasarkan aadegan yang telah dipelajarinya dengan tambahan gerak mengayun-ayunkan bagian kepala reog, kadang kala pementasan reog juga mengikutsertakan para penonton, pemain reog kadangkala berinteraksi dengan penonton, tentu saja dengan selalu memperhatikan intruksi dari pemain dan dalang.

Kepuasan dari penonton adalah hal wajib dalam pementasan reog, adegan demi adegan dipentasakan dengan apik oleh penari reog seperti adegan singa barong yang merupakan adegan yang sangat disukai oleh penonton, adegan ini berupa pemain reog memakai topeng berbentuk kepal singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak, yang beratnya bisa mencapai 50-60 kilogram. pertunjukan reog menggunkan topeng yang dibawa oleh penarinya menggunakan gigi. Selain membutuhkan latihan dan fisik yang kuat, dipercaya juga kekuatan membawa beban oleh seorang penari reog didapat ari latihan spiritual berupa puasa danbertapa.

6. Tari Kecak

Tari kecak merupakan tarian tradisional yang berasal dari Bali, tarian ini juga biasa disebut juga sebagai tari “cak” atau tari api. Tari kecak adalah sebuah tarian yang biasanya dibawakan sebagai sendratari yang dipertunjukan massal dan tari hiburan yang didalamnya terdapat unsur drama. penggolongan tari kecak sebagai sendratari karena dari keseluruhan pertujukan tari kecak akan menggambarkan seni peran dari cerita pewayangngan seperti memerankan tokoh rama dan Sinta. Tari ini juga khusus digunakan untuk sebuah ritual keagamaan masyarakat Hindu di Bali.
Tarian yang juga diangggap sebagai pemujaan dan upacara keagamaan, tari kecak juga sakral dengan mempertontonkan kekebalan fisik para penarinya yang tidak terbakar api. tidak seperti tari tradisional lainnya, atri kecak menggunkan teriakan berbunyi “cak cak ke cak cak ke” sebagai musik pengiring sehingga tari ini besar dengan nama tari kecak.

7. Tari Barong dari Bali

Salah satu pertunjukan tari yang sangat terkenal dari nusantara adalah tari barong yang berasal dari bali. barong sendiri adalah tarian khas bali yang sudah ada sejak peradaban kebudayaan pra hindu. Tarian ini menggambarkan pertarungan antara kebaikan melawan kebathilan, Barong sebagai lambang kebaikan melawan rangda yang merupakan simbol kejahatan.

8. Sendra Tari Ramayana

Sendratari ramayana merupakan gabungan dari pementasan tari dan juga pementasan drama tanpa dialog, tarian ini diangkat dari kisah pewayangan ramayana. Sendratari ramayana pertama kali dipentaskan pada tahun 1961 di Candi prambanan pada setiap hari selasa, kamis, dan sabtu. pementasanya sangat artistik karena berada di panggung terbukan dengan panorama candi prambanan.

9. Tari Pendet

Tari pendet pendet semula adalah sebuah tarian yang dibawakan oleh seorang wanita yang dipertunjukan sebagai kegiatan pemujaan di pura, hingga pada akhirnya tari pendet mulai berkembang sangat pesat dan dijadikan sebuah tari yang melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke dunia. Seriring dengan perkembangan jaman, tari pendet yang tadinya merupakan simbol penyambutan terhadap dewata semakin berkembang menjadi sebuah tarian penyambutan untuk tamu sebagai ucapan selamat datang.

10. Batik

Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang terkenal di manca negara, setiap orang di Indonesia paling tidak memiliki pakaian batik dalam lemarinya, sebagai persiapan untuk menghadiri berbagai acara-acara formal. Batik sendiri dihasilkan dari cara yang sangat unik yaitu menuliskan lilin panas ke atas kain menggunakan canting. batik sudah dikenal sejak kerajaan majapahit dan terus berkembang hingga saat ini dengan berbagai macam motif dan kreasi.

11. Lagu Sayang-sayange

Lagu sayang-sanyange merupakan sebuah lagu daerah yang berasal dari Maluku, Lagu ini digunakan sebagai ungkapan turun-temurun yang menandakan rasa kasih sayang terhadap persaudaraan dan lingkungan diantara masyarakat Maluku. Lagu ini sebenarnya berirama sederhana namun menimbulkan keceriaan pada satiap orang yang menyanyikanya, dalam bait terakhir dari lagu ini juga terselip sebuah pantun fenomenal “kalau ada sumur diladang, boleh kita menumpang mandi, kalau ada umur panjang, boleh kita berjumpa lagi”.

12. Lagu Jali jali

Lagu ini mungkin sangat akrab ditelinga kita sebagai lagu daerah yang berasal dari betawi, oleh beberapa kelompok diyakini lahir dan dikembangkan oleh suku peranakan Cina di daerah jakarta melalui musik tradisional gambang kromong. Jali jali sendiri adalah merupakan sejenis tanaman perdu yang selalu ada di pekarangan rumah orang betawi pada umumnya, oleh sebab itu sejak kecil tentu masyarakat betawi sudah akrab dengan si jali jali.

KEBUDAYAAN INDONESIIA



Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansakerta adalah buddhi yg artinya akal. Budaya merupakan aspek – elemen yg berkenaan bersama budi and akal manusia. Indonesia yakni salah satu negeri yg mempunyai kebudayaan yg amat bermacam macam. Karena keanekaragaman budaya and keunikan yg dipunyai, Indonesia jadi daya tarik bangsa lain dari belahan dunia yg mau mengetahuinya bahkan mereka pula ikut mempelajarinya.

Indonesia ialah suatu negeri di Asia Tenggara di mana membentang hamparan alam hijau yg indah permai, birunya laut yg luas, dgn beraneka ragam tipe hayati yg mampu menciptakan tiap-tiap orang terkesima. Tanah yg subur bersama beraneka ragam sumber daya alam yg ada and nyaris seluruhnya bangsa di dunia membutuhkannya. Hal itu yg menjadikan sekian banyak negeri mau menguasainya dgn kiat menjajah

Budaya adalah identitas bangsa yg mesti dihormati, dijaga, and butuh dilestarikan biar kebudayaan ini terus ada play on words sanggup jadi warisan anak cucu nanti. Budaya yg ada di Indonesia dinamakan bersama budaya nasional.
Indonesia yaitu negeri yg mempunyai bahasa daerah terbanyak di dunia. Berdasarkan laporan penelitian The Summer Institute of Linguistic, seperti yg dikutip dalam buku Pesona Indonesia (2006), terdapat 726 bahasa daerah diseluruh wilayah nusantara. Namun bahasa yg dominasi dipakai jadi bahasa nasional. Dengan keanekaragaman tersebut sehingga dibutuhkan adanya toleransi antar masyarakat.

Di Indonesia terdapat lima sort agama berlainan yg di anut oleh warga Indonesia seperti yg tertulis terhadap th 2010, tertulis jumlah penganut agama kira – kira 85,1% dari 240.271.522 warga Indonesia merupakan menganut agama Islam, 9,2% Protestan, 3,5%, katolik, 1,8% hindu and 0,4% Buddha.

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai – rupa suku bangsa. Di Indonesia ini terdapat lebih dari 300 grup suku bangsa. Contohnya suku Bangsa Melayu, suku Bangsa Aceh, uku Bangsa Batak, Suku Bangsa Minang kabau, suku bangsa Kubu, suku Bangsa Betawi, suku bangsa sunda, suku bangsa banten, suku bangsa buduy, suku bangsa jawa, suku bangsa madura, suku bangsa sasak, suku bangsa bali, suku bangsa sumba, suku bangsa bima, suku bangsa sasak, suku bangsa manggarai, suku bangsa bajawa, suku bangsa repetition, suku bangsa ende, suku bangsa dayak, suku bangsa minahasa, suku bangsa banjar, suku bangsa toraja, suku bangsa bugis, suku bangsa ambon, suku bangsa ternary and suku bangsa papua.

Berdasarkan penelitian th 2011, dari sisi makanan rendang terdaftar juga sebagai makanan withering disukai di dunia. Masih tidak sedikit lagi sort makanan dari bermacam daerah di Indonesia, seperti misalnya gado – gado makanan khas daerah Jakarta, pempek makanan khas daerah Palembang.

Indonesia play on words mempunyai berbagai – rupa kebudayaan yg populer di dunia, misalnya wayang kulit, seni batik, beraneka jenis seni tari, juga upacara kebiasaan yg di lakukan terhadap ketika orang menikah, kala orang melahirkan, dikala orang wafat, and bermacam makam kebiasaan istiadat lainnya.

Dalam industri permusikan Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri dikarenakan musik dangdut yg cuma dipunyai oleh Indonesia and sudah dipercaya dunia lewat UNESCO.

Kesenian daerah yg dipunyai Indonesia play on words beraneka ragam – jenis, diantaranya fasilitas musik, lagu, tarian, and seni pertunjukkan. Contohnya sarana musik gamelan (Jawa), media musik calung and angklung (Jawa Barat), fasilitas musik gambang kromong (Betawi), fasilitas musik kolintang (Minahasa), fasilitas musik sasando (kupang)dan masihlah tidak sedikit lainnya.

Setiap daerah Indonesia ini mempunyai beragam lagu tradisional, seperti lagu bubuy bln (Jawa Barat), ilir – ilir and gambang suling (Jawa Tengah), ampar pisang (Kalimantan Selatan), Injit – injit semut (Jambi), soleram (Riau), and lagu – lagu lainnya.Tidak cuma itu, ada beragam jenis tarian and seni pertunjukan dari beraneka daerah di nusantara.

Indonesia mempunyai bangunan bersejarah seperti candi – candi yg mempunyai ciri khas budaya dari daerahnya masing – masing. Contohnya candi Borobudur yg sudah dipercaya jadi 7 keajaiban dunia.

Beranekaragam kebudayaan yg dipunyai Indonesia terkecuali jadi kebanggaan semua bangsa play on words jadi tantangan tersendiri bagi semua rakyat utk menjaga pula mempertahankan budaya lokal supaya tak hilang maupun dipercaya oleh bangsa lain. Dengan melestarikan budaya lokal kita mampu menjaga budaya bangsa dari pengaruh budaya asing.

Banyak perihal yg menyebabkan budaya lokal dilupakan terhadap periode saat ini, salah satu penyebabnya adalah msuknya budaya asing. Berdasarkan kebenaran waktu ini tidak sedikit generasi bujang bangsa Indonesia lebih pilih kebudayaan asing dikarenakan mereka anggap kebudayaan asing lebih unik, menarik, and lebih praktis. Kebudayaan lokal tidak sedikit yg luntur lantaran tak ada generasi penerus yg mewarisinya. Sudah jadi kewajiban kita sbg pewaris bangsa butuh menumbuhkan kesadaran terhadap tiap-tiap masyarakat negeri Indonesia bakal pentingnya menjaga kebudayaan Indonesia bersama trik mengajarkan kebudayaan Indonesia pada anak – anak bangsa play on words meningkatkan rasa kebangsaan and nasionalisme pada tiap-tiap penduduk negeri Indonesia.

Selasa, 14 Januari 2020

Beberapa Ragam Tari Topeng Yang Dimiliki Indonesia


Para seniman tari topeng pada International Mask Festival 2017 di Surakarta. Foto oleh Vania Malinda/Phinemo
International Mask Festival 2017 yang diselenggarakan akhir pekan kemarin (27 dan 28 Oktober) masih menyisakan perasaan bangga terhadap kesenian yang ada di Indonesia. Penampilan seniman topeng dari sembilan negara membuat pengunjung terkagum-kagum.
Acara yang diselenggarakan di Pendopo Prangwedanan, Istana Mangkunegaran, Surakarta ini menampilkan tari topeng dari beberapa daerah di Indonesia seperti Bali, Indramayu, Madura, Yogyakarta, dan Kota Solo sendiri.
Tari topeng merupakan tarian yang memang sudah terkenal di penjuru nusantara, sesuai namanya para penari menggunakan epilog muka atau topeng. Jenis tarian yang sudah ada sejak zaman pra-sejarah ini biasanya ditampilkan pada upacara adat, atau untuk menceritakan kembali cerita kuno para leluhur.
Selain berkaitan dengan leluhur ataupun dewa-dewa, tari topeng biasanya juga menceritakan tentang kisah dan juga legenda suatu daerah. Seperti contohnya menceritakan tentang kisah klasik Ramayana dan Panji yang menjadi inspirasi utama dalam penciptaan topeng di Jawa.

Mempunyai ciri khas yang berbeda-beda

Tari topeng di nusantara sendiri mempunyai ciri khas yang berbeda-beda tergantung kondisi daerahnya masing-masing. Perbedaan ini bisa dilihat dari segi cerita, koreografi, kostum, maupun jenis topeng yang digunakan.
Pada tari topeng Bali misalnya, biasanya cerita yang dibawakan berkaitan erat dengan upacara keagamaan Hindu atau kisah-kisah sejarah Bali yang lebih dikenal dengan Babad. Kemudian juga menceritakan tentang keagungan dewa-dewa yang telah memberikan kedamaian serta keberkahan. Penari topeng Bali terbagi menjadi dua, ada yang memakai topeng separuh wajah (sibakan) dan juga ada yang memakai topeng seluruh wajah (bungkulan).

Aerli Rasinah, cucu maestro Tari topeng Indramayu Mimi Rasinah saat International Mask Festival 2017. Foto oleh Vania Malinda/Phinemo
Sedangkan tari topeng Indramayu, penari memakai sebuah topeng yang menggambarkan karakter tertentu, dan dilengkapi dengan ronce panjang di kedua sisi telinga. Pada tari topeng Indramayu ada dalang yang menceritakan kisah dari tarian tersebut. Dan juga tari ini menggunakan latar belakang yang penuh ornamen.

Perbedaan karakter tari topeng nusantara dan mancanegara

Tari topeng nusantara umumnya memiliki simbol-simbol yang bermakna pada gerakannya. Beberapa jenis tari nusantara mempunyai gerakan yang sederhana, namun ternyata dibalik itu terdapat arti yang sangat dalam. Sedangkan tari topeng mancanegara lebih menggambarkan secara jelas cerita yang disampaikan. Mereka memadukan seni tari dan akting kedalam sebuah pertunjukan.
Pada malam kedua International Mask Festival 2017, Maestro tari topeng dari Solo Bambang Besur Suryono membawakan sebuah tarian dengan gerakan yang minimalis, diikuti oleh semacam geraman yang membuat tarian ini semakin misterius. Namun, keindahan gerakan yang sederhana itu lah yang membuat penonton terpukau. Sang maestro sangat menghayati karakter yang ia perankan.


Cerita tentang nenek yang hidup sendiri diperankan oleh delegasi dari Spanyol. Foto oleh Vania Malinda/Phinemo.
Berbeda halnya dengan tari topeng kolaborasi antara Serbia dan Spanyol. Menceritakan tentang seorang nenek yang hidup sendiri bersama kenangan bahagia akan suaminya, para seniman ini membawakan dengan gerakan – gerakan yang terbilang sangat jelas. Perpaduan antara seni tari dan akting membuat seluruh penonton terhanyut akan cerita yang dibawakan, bahkan sebagian penonton hingga meneteskan air mata.

Ragam tari topeng di Indonesia

Indonesia memiliki banyak tari topeng yang berasal dari berbagai macam daerah. Beberapa di antaranya yang sudah sangat terkenal ialah Tari Topeng Cirebon, Dayak, Bali, Malang, Reog Ponorogo, Ireng dari Jawa Tengah.
Di daerah di Pulau Kalimantan, suku Dayak menggunakan topeng dalam Tari Hudog yang sering dimainkan dalam upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari ini dmempunyai maksud untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.
Tari topeng di Bali mempunyai jenis-jenis topeng berdasarkan pada strata sosial karakter yang di tampilkan. Beberapa jenis topeng tersebut ialah topeng keras (petarung), topeng tua (sesepuh), topeng bondres (rakyat biasa), dan topeng ratu (bangsawan). namun ada beberapa jenis topeng lagi yang biasa digunakan dalam tarian, seperti topeng Calonarang (buruk rupa bertaring), topeng jauk (peralihan antara manusia dan raksasa yang kasar biasa disebut Barong), dan topeng telek (sekutu Barong, mempunyai wajah dan watak yang halus).
Sedangkan Topeng Cirebon biasanya digolongkan kedalam lima karakter yang berbeda. Panji, sosok manusia yang baru dilahirkan, penuh kesucian. Topeng Samba, menggambarkan sosok anak-anak yang lincah dan lucu. Topeng Rumyang, mengambarkan tentang remaja yang memasuki akhil balig.Topeng Tumenggung, menggambarkan sosok yang prajurit yang tegas dan perkasa. dan terakhir, Topeng Rahwana atau Kelana, menggambarkan watak manusia yang penuh amarah dan serakah.
Melestarikan tarian topeng tidak hanya menjadi kewajiban bagi para senimannya, namun sebagai masyarakat Indonesia kita juga patut menjaga warisan budaya ini. Melalui acara International Mask Festival (IMF) 2017, mengajak para penonton untuk lebih mengenal topeng yang dimiliki oleh Indonesia, melalui seminar, workshop membuat topeng, sampai pertunjukan tari topeng itu sendiri.

Hikayat Tari Topeng Indramayu

Indramayu mencetak penari-penari topeng kelas dunia. Berkaca pada kasus Rasinah, sistem pendidikan modern kini diterapkan dalam proses regenerasi seniman.
Namanya bersinar di tingkat dunia. Wangi Indriya pernah mencicipi gedung-gedung pertunjukan ternama, mulai dari Esplanade hingga Teatre Lliure. Di bawah arahan sutradara Broadway, Robert Wilson, dia memerankan Wé Nyiliq Timoq dalam I La Galigo.
Tapi, hari ini, Wangi lebih memilih menari di sebuah desa di Sukmajaya, daerah yang dihuni banyak rumah uzur bertubuh bambu dan beratap limasan. Butuh satu jam untuk menjangkaunya dari Jatibarang, pusat kota Indramayu. “Di sini suasananya masih asyik kan,” ujar Wangi. Anjing-anjing kampung terus menggonggong saat kami tiba.
Tubuhnya tegak lurus dengan kedua kaki terbuka membentuk kuda-kuda. Dia bergerak lambat, sangat lambat, nyaris tak terlihat sedang menari. Wangi mengenakan sobra (mahkota) dengan sumping (semacam hiasan mirip rambut). Kain batik bermotif flora khas Paoman mengubur kedua kakinya. “Saya terbiasa menari di mana saja,” ujarnya lagi.
Wangi indriya

Selang 20 menit, tangannya menarik topeng yang dibungkus kain ules. Tariannya melambangkan bayi yang baru lahir. Satu per satu warga keluar rumah untuk menyaksikan pentas dadakannya. Lebih berupa gerak ritual, Tari Panji tak peduli dengan kenikmatan penonton. Sang penari dipaksa menahan gerak dan emosi, kontradiktif dengan nada-nada rancak yang mengiringinya. Dalam panggung yang komplet, tari ini diiringi gending Kembang Sungsang yang sukar dimainkan.
Tari Panji juga menuntut banyak aturan. Penari, misalnya, dilarang berkeringat atau mengangkat bahu ketika menarik napas. “Seperti mati sejeroning urip, urip sejeroning mati,” jelas Wangi. Sebelum pentas, wanita asal Desa Tambi ini melakoni serangkaian puasa, termasuk berpantangan garam dan daging.
Wangi adalah salah satu produk terbaik Indramayu. Seniman kelahiran 1961 ini ditempa oleh kerasnya “jalanan.” Dia pentas dari panggung ke panggung dalam beragam hajatan yang berlangsung di sawah, pantai, atau kuburan. Ayahnya, Taham, seorang dalang wayang terpandang. Kakeknya, Wisad, punya reputasi harum sebagai seniman serbabisa.
Seluruh pamannya menjadi nayaga (penabuh gamelan) atau pembuat wayang dan topeng. Empat saudaranya berprofesi dalang atau pesinden. Kini, Wangi menjabat Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia cabang Indramayu.
Sanggar Mulya Bhakti tempatnya dibesarkan mirip sasana seni. Wangi bisa belajar aliran apa saja langsung dari sumbernya. Dia sudah mendalang sejak kelas empat SD, bahkan pernah jatuh sakit akibat tiga malam mewakili ayahnya mendalang. Dia baru berhenti mendalang usai pergelangan pahanya terkilir akibat terlalu keras memukul keprak.
Wangi mulai menekuni tari topeng pada usia sembilan tahun. Perjuangannya panjang dan penuh keringat. Dia awalnya berguru pada dalang topeng terkenal Nargi dan Tarip asal Sukagumiwang, lalu secara perlahan menguasai Tari Rumyang, Tumenggung, Klana Gandrung, dan Klana Udeng. Latihannya diawasi saksama oleh sang kakek dan ayah. “Ayah melatih dengan musik dari mulut sambil memegang rotan,” kenangnya.
Ketika hendak menjadi dalang topeng, Wangi melalui proses “uji kelayakan” yang melelahkan: bebarang (mengamen) di tujuh titik berbeda. Diiringi panjak (nayaga), dia menari di perempatan jalan, di rumah kepala desa, di balai desa, atau di depan rumah orang yang memintanya menari. “Saya harus menari terus-menerus mengikuti keinginan penonton yang sudah menyawer.”
Topeng membawa tubuhnya melanglang dunia. Wangi mencatatkan banyak pentas kolaboratif. Pada 2002, dia terlibat dalam Silhouette Animation Films Meet Dalang Wayang Kulit, pertunjukan yang diinisiasi oleh Goethe Institute. Tugasnya merespons film-film bisu Jerman melalui seni pendalangan. Kolaborasi unik itu lalu dibawa ke Prancis, Belgia, Swiss, Italia, serta Belanda. Usai lolos audisi I La Galigo, namanya kian bergema. Pada 2005, dia melawat ke Amerika, Italia, dan Australia.
Dengan pamor yang harum di kancah global, Wangi pun berubah menjadi guru yang dihormati. Dia mengembangkan dan menyebarkan ilmunya kepada publik melalui Sanggar Mulya Bhakti. Minat warga untuk belajar tari topeng mulai menggejala dalam 10 tahun belakangan, dan Wangi bermimpi tari topeng bisa memiliki umur yang panjang.
Kursus digelar di perut pendopo yang ditopang tiang beton. Kompleks ini pernah dipugar pada 2009 memakai donasi dari Dana Kemanusiaan Kompas. Hari ini, 60 anak datang bersamaan untuk belajar. Wangi tampak kewalahan. Melihat kemampuan murid yang berbeda-beda, dia memecah peserta ke dalam beberapa kelompok, dan semuanya harus antre untuk berlatih.
Di antara para peserta, ada Musfia yang datang mengantarkan kedua anaknya, Naura (6) dan Intan (12). Keduanya berguru pada Wangi sejak setahun silam. “Mereka menari buat kenaikan kelas,” ujar Musfia yang hanya perlu membayar Rp 10 ribu per kedatangan untuk tiap anaknya.
Tak semua siswanya perempuan. Tanaka (6), salah satu murid pria, antusias mempelajari Tari Klana. Saban Jumat dan Minggu, dia datang diboncengi ayahnya dengan menempuh perjalanan 13 kilometer dari Desa Bunder. Sukasa mengaku anaknya menyukai tari topeng usai menonton sebuah pertunjukan di pendopo Kabupaten Indramayu.
Dua tahun berguru di Sanggar Mulya Bhakti, Tanaka kini menguasai dua nomor pakem: Klana Gandrung dan Klana Udeng. Dia juga kerap diajak Wangi untuk pentas. Pernah saat tampil di acara Ngarot, semacam inisiasi bagi remaja yang siap berumah tangga, Tanaka menjadi bintang favorit. Sobra yang dikenakannya penuh oleh uang yang ditancapkan dengan lidi. “Anak saya sampai ditarik-tarik oleh penonton,” kenang Sukasa.
Jauh sebelum Wangi, ada Mimi Rasinah. Namanya melegenda. Dia pernah tampil di banyak institusi bergengsi, termasuk Taman Ismail Marzuki dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Pada 1994, Rasinah melakoni muhibah ke Jepang dan Eropa. Dari situlah publik mengenal tari topeng, cabang yang kemudian menjadi primadona di banyak pusat kebudayaan dan kampus seni.
Tapi kisah Rasinah sebenarnya menyimpan pilu. Sebelum ditemukan kembali oleh para penggiat seni, dia sempat tenggelam dan seolah terlupakan. Wanita yang pernah difilmkan oleh Rhoda Grauer ini hidup dibalut kemiskinan di sebuah rumah yang rentan ambruk. Nasib tragisnya memberi pelajaran tentang pentingnya regenerasi seniman.
Adalah Endo Suanda dan Toto Amsar Suanda yang “mengembalikan” Rasinah ke orbit tari. Kedua akademisi STSI ini sejak lama berniat merekonstruksi tari topeng klasik. Keduanya bertamu ke rumah Rasinah di Pekandangan yang kondisinya mengenaskan, lalu membujuknya untuk sudi menari lagi.
Saat itu sang maestro berusia 64 tahun dan sudah 20 tahun pensiun menari. Ada banyak alasan kenapa Rasinah undur diri dari dunia yang membesarkan namanya. Salah satunya susutnya animo publik, sehingga banyak grup beralih mendirikan grup sandiwara, tarling, atau organ tunggal. Penyebab lainnya adalah kepergian suaminya yang juga pimpinan grup sandiwara Harem Jaya. Demi menyambung hidup, perempuan kelahiran 1930 ini menjual gamelan dan topeng kepada pemburu barang antik.
Endo awalnya kesulitan membujuk Rasinah untuk kembali tampil. Rasinah menolak dengan alasan tak lagi memiliki gamelan dan kedok. Setelah Endo bersedia mencarikan perangkat tersebut, Rasinah kembali mengelak dengan alasan hanya bisa pentas jika diiringi oleh suaminya. “Kita coba dulu,” Endo terus merayu. “Saya tak bisa menggigit kedok lagi. Gigi sudah ompong,” jawab Rasinah.
Pelan-pelan Rasinah terbujuk. Dia rela berlatih dengan diiringi nayaga oleh Sanggar Mulya Bhakti. Rasinah lalu mementaskan Tari Tumenggung. Tubuhnya kurus kering, tapi energinya menjalar dan mengguncang panggung. Para panjak terbengong-bengong dan kewalahan mengikuti gerakannya yang eksplosif. Dari situlah Endo merekonstruksi tari topeng gaya Pekandangan yang sudah punah.
Endo kemudian terlibat lebih jauh: tak hanya mengurusi pertunjukan Rasinah, tapi juga menyantuni hidupnya yang memprihatinkan. Bersama skenografer Roedjito, Endo kerap memasok beras dan kebutuhan harian, termasuk membawa Rasinah ke dokter saat dia jatuh sakit. Pernah Endo mengontak ratusan koleganya untuk merenovasi rumah Rasinah.
“Saya benar-benar takut ia kejatuhan atap rumahnya,” ujarnya. Kini, semangat dan dedikasi Rasinah dipelihara oleh Padepokan Tari Mimi Rasinah, sanggar yang terletak tak jauh dari rumah dan makamnya. Tempat ini dikelola oleh sang cucu, Earli Rasinah, bersama suaminya, Ade Jayani. Di sinilah tongkat estafet tari topeng diwariskan ke generasi penerus.
Taktik yang dipakai pengelola cukup cerdik. Berniat menjadikan Padepokan Tari Mimi Rasinah tempat berkumpulnya anak muda, Ade memasang seperangkat komputer dengan jaringan internet di panggung. “Saya ingin mereka datang dulu,” ujarnya. “Jika sudah tertarik, pasti gampang diajak main gamelan kapan saja.”
Earli mendukung langkah suaminya. Dia tak rela tragedi yang menimpa neneknya terulang: setelah para nayaga dan suami meninggal, tak ada lagi yang bisa mengiringi tari. “Mendidik nayaga juga penting,” ujarnya. Kini, anaknya yang masih kelas 2 SD, Walan Jayani, sudah terampil memainkan gendang.
Salah satu pemicu merekahnya kembali seni topeng adalah kian terbukanya para dalang pada pendidikan formal. Earli Rasinah belajar di STSI. Nur Anani, cucu maestro dalang topeng asal Losari, Mimi Sawitri, juga melanjutkan kuliah. “Mereka punya hak untuk kuliah,” ujar Endo yang merekomendasikan kedua nama itu ke kampus, juga mengumpulkan sumbangan guna meringankan biaya kuliah keduanya.
Terobosan Endo ternyata berdampak panjang: mendobrak kebuntuan regenerasi penari topeng. Sanggar Mulya Bhakti dan Padepokan Tari Mimi Rasinah kini menerapkan metode belajar yang sistematis dan mudah diikuti siapa saja, termasuk para guru dan siswa sekolah yang memang tak bermimpi menjadi penari topeng profesional.
Proses belajarnya ringkas dan praktis. Seperti di lembaga pendidikan resmi, peserta dilatih menguasai gerak, irama, dan rasa dengan merujuk modul. Setelah menguasai satu nomor tari misalnya, mereka diuji oleh tim khusus. Sistem pendidikan tari topeng tak ubahnya kursus piano atau biola.
Seiring itu, tari topeng pun berkembang. Di kampus-kampus, gerakan-gerakan dasar dielaborasi hingga menghasilkan banyak gerakan turunan. Di sejumlah padepokan, nomor-nomor yang melelahkan dipecah agar mudah dipelajari. “Saya perpendek durasi dengan mengurangi jumlah ketukan gongnya, tanpa mengurangi esensi geraknya,” kata Earli Dalang topeng juga lebih terbuka pada media sosial. Earli dan Nur Anani cukup aktif menyebarkan informasi kegiatan sanggarnya melalui Facebook dan Twitter. Wangi bahkan menerima layanan wawancara melalui Line.
Kebangkitan tari topeng meniupkan gairah segar berkesenian di Indramayu. Di sepanjang Jalur Pantura, pelang-pelang pentas memenuhi jalanan. Dan tak cuma di jalan utama. Gang becek dan jalan setapak yang membelah sawah juga dipenuhi spanduk grup tarling, organ tunggal, singa depok, singa barong, hingga sandiwara. Indramayu, kabupaten yang punya citra suram di dunia malam, seperti memasuki babak baru: menjadi salah satu sentra seni rakyat.
Fenomena itu turut mencipratkan rezeki ke banyak seniman, termasuk orang-orang yang bergerak di belakang layar. Perajin topeng Warsad Darya mengaku kebanjiran order usai tari topeng digemari oleh banyak kalangan. Katanya, kehidupan seni Indramayu mengalami titik balik pada 1994 saat Endo dan kawan-kawan berhasil merevitalisasi tari topeng.
“Dulu mah topeng gak ada yang beli. Grupnya aja tak ada yang nanggap,” kenangnya. Kini, dia tak cuma menerima order dari komunitas topeng lokal, tapi juga sekolah-sekolah seni di Jakarta, Bandung, Solo, bahkan Kalimantan. “Saya juga pernah mendapat pesanan dari Prancis dan Belanda,” tambah dalang bertubuh kurus ini. Belakangan, peminatnya merambah kalangan kolektor.
Warsad membuat topeng secara manual. Waktu pengerjaan tak jelas, karena dia bekerja mengikuti suasana hati. Di bengkelnya, tak ada topeng ready stock. Semuanya harus dipesan khusus. Satu kedok paling murah dibanderol Rp300 ribu, dan bisa meroket hingga Rp3 juta di kalangan kolektor. “Asal catnya kelihatan burek, justru laku mahal,” ujar Warsad.
Ki Rohedi, dalang wayang kulit terkenal, juga kebanjiran berkah dari bergairahnya dunia seni. “Untuk November tahun ini saja sudah dipesan sejak November tahun lalu,” ujarnya. Rumahnya di Desa Kedung cukup megah. Dindingnya dilapisi keramik. Sebuah jip terparkir di pekarangan. “Ini semua dari mendalang loh,” ujarnya bangga. Biasanya rumah mentereng di sini dibangun dari uang kiriman TKW dan bukan dari kreativitas di panggung.
Rohedi salut melihat tari topeng kini diterima khalayak luas. Tari ini dipelajari di sekolah hingga kampus. Pencapaian ini, katanya, tak lepas dari keberanian para dalang dalam berkreasi, misalnya dengan meringkas tarian, menulis kurikulum, hingga merekam tembang-tembang pengiring. “Seniman memang harus berinovasi,” katanya.